Pencarian

ROSARIO

Tidaklah cukup hanya mewartakan devosi ini pada orang lain, namun diri sendiri harus mempraktekkannya, karena tidak seorangpun dapat memberikan apa yang tidak dimilikinya.

Rahasia Rosario St.Montfort

Meditation Chimes

Rabu, Juni 10, 2009

Belajar Untuk Hidup


Saya belajar, bahwa saya tidak dapat memaksa orang lain mencintai saya. Saya hanya dapat melakukan sesuatu untuk orang yang saya cintai....

Saya belajar, bahwa butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun kepercayaan dan hanya beberapa detik saja untuk menghancurkannya.

Saya belajar, bahwa sahabat terbaik bersama saya dapat melakukan banyak hal dan kami selalu memiliki waktu terbaik....

Saya belajar, bahwa persahabatan sejati senantiasa bertumbuh, walau dipisahkan oleh jarak yang jauh. Beberapa diantaranya melahirkan cinta sejati....

Saya belajar, bahwa jika seseorang tidak menunjukkan perhatian seperti yang saya inginkan, bukan berarti bahwa dia tidak mencintai saya....

Saya belajar, bahwa sebaik-baiknya sahabat itu, mereka pasti pernah melukai perasaan saya..... dan untuk itu saya harus memaafkannya....

Saya belajar, bahwa saya harus belajar mengampuni diri sendiri...., kalau tidak mau dikuasai perasaan bersalah terus menerus....

Saya belajar, bahwa tidak masalah berapa buruknya patah hati itu, dunia tidak pernah berhenti hanya gara-gara kesedihan saya....

Saya belajar, bahwa saya tidak dapat merubah seseorang, tapi semua itu tergantung dari diri mereka sendiri.... , hanya diri sendiri yang dapat saya rubah untuk lebih dalam lagi memiliki toleransi untuk memahami sifat dan sikap orang.

Saya belajar, bahwa lingkungan dapat mempengaruhi pribadi saya, tapi saya harus bertanggung jawab untuk apa yang saya telah lakukan....

Saya belajar, bahwa dua manusia dapat melihat sebuah benda, tapi kadang dari sudut pandang yang berbeda

Selasa, Juni 09, 2009

Belajar Untuk Setia




Bicara Tentang Setia

Ada sebuah puisi bagus yang ditulis oleh Wendoko, yang bercerita tentang kesetiaan. Puisi yang berjudul Dongeng Sebelum Tidur (8) itu, merupakan sebuah narasi tentang seorang murid yang bertanya kepada gurunya tentang kesetiaan. Bait pembuka puisi itu pun ditulis dengan sebuah ucapan manis sang murid:

"Guru, ceritakan padaku tentang kesetiaan…"

Selanjutnya, teruntai sebuah kisah yang diceritakan sang guru tentang seorang pengawal istana yang "mengungkapkan cintanya pada selir kaisar." Jawaban sang selir:

…'Berdirilah di bawah jendela kamarku seratus hari dan seratus malam,

dan pada malam keseratus aku akan menjawabmu.'…

Mendengar jawaban selir tersebut, sang pengawal istana pun "berdiri dan berjaga di bawah jendela kekasihnya – di bawah kerindangan pohon yang-liu". Selama beberapa hari, pengawal itu terus menunggu dengan sabar dan setia, mungkin karena ada harapan besar yang tersimpan di hatinya. Setiap malam, sang selir pun terkadang "mengintip lewat sekat-sekat jendela kamarnya, dan mendapati si pengawal di balik kabut yang membeku." Ironis, ternyata kesetiaan bersifat antiklimaks. Karena kemudian:

"…Lalu, pada malam kesembilan puluh, pengawal kita ini / sudah begitu letih; mukanya pucat dan matanya berair. Ia memandang ke langit yang hitam, / cahaya bulan yang jatuh ke jendela kamar kekasihnya, dan bayang-bayangnya sendiri di atas / rumputan. Dan pada malam keseratus – satu jam sebelum waktu yang dijanjikan selir kaisar – / ia beranjak dari bawah pohon yang-liu…"

Entah apakah seuntai kisah yang diceritakan oleh sang guru, ketika muridnya bertanya tentang kesetiaan, bisa benar-benar mewakili arti setia. Dengan kata lain, setia (dengan imbuhan "ke – an" menjadi "kesetiaan") yang diilustrasikan hanya merupakan keteguhan sikap awal, untuk kemudian berangsur berkurang, atau bahkan hilang sama sekali. Karena banyak hal yang bisa menggambarkan arti setia, seperti puisi seorang teman (Widyawati Oktavia, 2004) berikut ini:

mari belajar tentang setia
pada ranting-ranting yang menunggu pucuk tumbuh
ditunggunya sampai menghijau
jika pun akhirnya daun luruh
itu karena musim telah berganti

mari belajar tentang setia
pada rintik yang selalu temani gerimis
pada kelam yang selalu sertai malam
setia yang tidak pernah pertaruhkan janji


Setia yang digambarkan dalam Mari Belajar Tentang Setia, merupakan setia yang lebih bersifat alamiah, dan tidak dipaksakan oleh janji. Mungkin itulah yang mematahkan setia pengawal istana kepada selir: keterikatan pada suatu janji, yang memiliki syarat! Tidak seperti pengawal yang disyaratkan menunggu seratus hari dan seratus malam, ranting-ranting hanya menunggu pucuk hingga menghijau, tanpa terikat janji dalam hitungan waktu. Ranting-ranting pun sadar akan konsekuensi dari sebuah penantian, karena ia tahu bahwa kelak daun akan luruh ketika musim berganti, dan tidak lagi hijau menghiasi pucuk.

Begitu pula dengan rintik dan kelam, masing-masing akan terus setia menemani gerimis dan malam, tanpa janji akan sebuah kebersamaan. Sebuah metafora yang sangat manis: sebuah setia tanpa syarat, tanpa janji akan kepemilikan.

Namun perlu diingat, kedua puisi di atas memiliki sifat yang berbeda, bahkan bisa dikatakan bertolak belakang. Dongeng Sebelum Tidur (8) merupakan refleksi atau hikmah atas arti sebuah kesetiaan, sedangkan Mari Belajar Tentang Setia merupakan proyeksi atau harapan ideal akan arti setia. Tapi tentu saja puisi bukan untuk dipertentangkan. Keduanya memiliki kesan yang dalam. Kesan untuk kembali bertanya tentang arti kesetiaan, juga setia.

Tentu kesetiaan tidak sama dengan setia. Kesetiaan merupakan kata benda, sedangkan setia merupakan kata sifat, yang dapat juga menjadi kata kerja. Seperti wujud materialistis (kata benda) lain, mungkin akan terkesan wajar apabila kesetiaan memiliki syarat, karena ada unsur kepemilikan di dalamnya. Sedangkan setia, tidak setiap insan memiliki sifat setia, atau mau melakukan setia. Butuh ikhlas untuk dapat setia.

Karena setia merupakan fragmen dari absurditas manusia, perjalanan manusia dalam setia pun bisa dikatakan layaknya Sisifus. Ketika berada dalam semangat setia yang tinggi, bisa dikatakan kalau manusia sedang mendorong batu besar ke atas sebuah bukit. Mungkin setia berada dalam alam bawah-sadar manusia, karena ketika kenyataan menyentuh alam sadar, akan timbul pertanyaan: "Layakkah ini dilakukan?" Saat pertanyaan itu hadir, saat itulah batu besar itu menggelinding jatuh. Namun, tentu saja semangat setia itu kembali hadir, batu besar itu pun akan kembali didorong ke atas.

Tentu saja setia tidak selalu hadir dalam melankoli hubungan cinta manusia. Setia dapat hadir dalam cita-cita, ataupun idealisme yang dimiliki manusia. Ketika Thomas Alfa Edison gagal dalam percobaannya yang ke 900, apakah ia pernah berpikir kalau ia dikutuk layaknya Sisifus? Tapi, seperti yang kita ketahui, ia akhirnya berhasil pada percobaan ke 1000. Terlihat bahwa setia terhadap cita-cita merupakan mantra pembebas kutukan Edison untuk menjadi Sisifus.

Setia terhadap idealisme, seperti layaknya memegang bara panas di tangan. Tidak banyak manusia yang mampu melakukannya, sebagian besar lebih memilih untuk melepaskan bara tersebut. Dapat dikatakan, bahwa setia terhadap idealisme memiliki konsekuensi: penderitaan.

Bicara tentang setia (dalam ranah cinta, cita-cita, dan idealisme), tidak semudah dalam melaksanakan. Bagaimanapun, setia tidak dapat dikonstruksikan sebagai sesuatu yang berakhir indah, bahkan sering berakhir getir. Tidak perlu kematian Romeo-Juliet untuk mengajarkan kita akan setia. Setia adalah sebuah pilihan, apapun akhir yang mungkin terjadi. Sebuah keputusan yang diambil dengan pertimbangan hati dan nurani. Seperti yang digambarkan dalam bait berikut

mari belajar tentang setia
cukup duduk di sini
perlahan, diam-diam
dengarkan bisik hati

Penguasaan Pikiran Membawa Perubahan Hidup

Betapa berharganya pikiran yang selama ini tertidur, menunggu dibangunkan dan digunakan untuk tujuan yang lebih tinggi. Betapa menakjubkan saat munculnya indikasi pertama dari perkembangan pribadi , saat kita dapat melihat keindahan dalam benda-benda yang paling biasa, saat kehidupan dapat dihargai dan peran Tuhan terlihat dalam tiap aspek kehidupan.

“Dunia ini” serta “dunia pribadi” adalah tempat yang sangat istimewa, dimana sukses “di luar” tiada artinya tanpa sukses “di dalam”. Pengendalian diri dan konsisten memperhatikan pikiran, tubuh dan jiwa penting untuk menemukan diri yang paling tinggi untuk dapat menjalani hidup sesuai dengan perutusan. Bagaimana dapat memperhatikan orang lain jika tidak dapat memperhatikan diri sendiri ? Bagaimana dapat melakukan hal yang baik jika tidak merasakan kebaikkan? Dan bagaimana dapat mencintai orang lain bila tidak dapat mencintai diri sendiri secara benar?

Gaya hidup yang kacau dan tidak seimbang membuat hidup dalam kehidupan stess. Mari kosongkan “cangkir kemapanan pikiran yang tertidur” supaya menjadi investasi diri yang terbaik yang dapat memperbaiki hidup sendiri juga kehidupan di sekitar. Hal yang hanya mungkin terjadi bila seni mencintai diri sendiri (berdamai dengan diri sendiri) terkuasai, sehingga dapat benar-benar mencintai orang lain. Hanya dengan membuka hati sendiri yang dapat menyentuh hati orang lain. Seperti yang di katakan Carl Jung : “ visimu akan menjadi jelas hanya jika kamu dapat melihat ke dalam hatimu. Mereka yang melihat ke luar akan bermimpi, mereka yang melihat ke dalam akan terbangunkan”.


Langkah pertama untuk membangunkan pikiran yang tertidur agar menjadi gudang kekuatan yang menakjubkan guna menikmati kehidupan adalah dengan merawat dan mengolah pikiran seperti mengolah sebuah taman yang subur dan penuh warna sehingga bunga-bunga di taman itu akan bermekaran lebih dari yang diharapkan, namun bila rumput liar dibiarkan berakar, kedamaian pikiran dan harmoni batin akan menghindar dari kehidupan. Kecemasan menghabiskan kekuatan pikiran, cepat atau lambat akan melukai jiwa. Untuk menjalani kehidupan yang paling lengkap, engkau harus berdiri menjaga pintu gerbang tamanmu, hanya informasi terbaik yang boleh masuk, menajemen pikiran merupakan inti dari menajemen hidup.

Kita tidak dapat mengendalikan cuaca atau suasana di sekitar kita, tapi tentu saja kita dapat mengendalikan perilaku kita pada hal-hal tersebut. Semua orang memiliki kekuatan untuk menentukan apa yang dipikir, inilah bagian yang membuat kita menjadi manusia. Mencari hal positif dalam setiap situasi akan membawa hidup pada dimensi tertinggi.

Dunia di luar merefleksikan keadaan dunia batin. Dengan mengendalikan pemikiran yang dipikir dan cara merespon kejadian-kejadian di dalam hidup , takdir mulai terkendali. Tak ada yang namanya pengalaman negatif, yang ada hanyalah kesempatan untuk berkembang, belajar dan kemajuan di sepanjang jalan menuju penguasaan diri. Dari perjuangan muncul kekuatan, bahkan rasa sakitpun dapat menjadi guru yang sangat baik. Berhenti menghakimi kejadian yang dialami sebagai kejadian positif atau negatif. Alami , rayakan dan pelajari kejadian tersebut, karena tiap kejadian menawarkan pelajaran kecil yang mengisi perkembangan lahir dan batin.

Saat hasil yang diharapkan tidak seperti yang diharapkan, saat kecewa menghampiri, ingatlah hukum alam yang selalu meyakinkan bahwa ketika satu pintu tertutup, pasti ada pintu lain yang terbuka.

Mengkondisikan pikiran dan menterjemahkan setiap kejadian menjadi hal yang positif dan terkendali, akan mengusir kecemasan yang merupakan kebocoran pada energi dan potensi yang berharga dan membuat terhenti menjadi tawanan masa lalu, sebaliknya jadilah arsitek masa depan. Mulailah hidup dengan kebesaran imajinasi bukan dengan memori karena segala sesuatu diciptakan dua kali, pertama dalam pikiran baru kedua dalam realita. Pikiran adalah pembantu yang baik namun tuan yang sangat buruk. Jika ingin menjalani kehidupan yang damai dan bermakna maka harus senantiasa memikirkan hal-hal yang lebih damai dan lebih bermakna.

What a Wonderful World (Shadow Puppet)

Setiap kali takjub akan keindahan keheningan, senyum hangat, suara alam,
setiap kali pula teringat untaian puitis dendang Louis Armstrong, di balik seraut wajah jenaka teman yang mengirimkan clip indah ini Rm Gun SMM.




WHAT A WONDERFUL WORLD

I see trees of green, red roses too
I see them bloom for me and you
And I say to myself
What wonderful world

I see skies of blue and clouds of white
Bright sunny days, dark sacred nights
And I think to myself
What a wonderful world

The colors of the rainbow are so pretty in the skies
Are also on the faces of people walking by
I see friends shaking hands saying
How do you do?
They're really saying
I love you

I see babies cry, I watch them grow
They'll learn much more than I'll ever know
And I think to myself
What a wonderful world
Yes, I think to myself
What a wonderful world

And I say to myself
What a wonderful world

Buka Pintu Hati (Ajahn Brahm)


Orang di jaman sekarang terlalu banyak berpikir.
Kalau saja mereka mengurangi proses berpikir mereka sedikit,
maka hidup mereka anda akan menjadi jauh lebih gampang.

Di vihara kami di Thailand, setiap minggu di suatu malam,
bhikkhu-bhikkhu begadang melewatkan waktu tidur mereka untuk
bermeditasi semalaman di ruang utama. Ini sudah menjadi
tradisi bhikkhu hutan. Tidaklah terlalu berat, karena kami
selalu bisa tidur di pagi harinya.

Suatu pagi, sesudah semalaman bermeditasi, ketika kami sudah
siap kembali ke pondok masing-masing untuk tidur, kepala
vihara memanggil seorang bhikkhu junior, orang Australia.
Betapa kecewanya dia karena kepala vihara memberikan dia
setumpukan besar jubah untuk dicuci, seraya menyuruhnya
untuk melakukannya sekarang juga. Sudah menjadi tradisi kami
untuk membantu kepala vihara mencuci jubahnya dan juga
melayaninya melakukan hal-hal kecil lainnya.

Ini merupakan pekerjaan mencuci yang banyak. Lagipula,
seluruh cucian harus dikerjakan dengan cara tradisional ala
bhikkhu hutan. Air harus ditimba dari sumur, membuat api
besar dan memasaknya sampai mendidih. Potongan kayu dari
pohon nangka harus dipotong menjadi kepingan-kepingan kecil
dengan menggunakan kapak. Potongan kecil tersebut dimasukkan
ke dalam air mendidih tadi untuk mengeluarkan sarinya, yang
berfungsi sebagai "deterjen". Lalu setiap jubah diletakkan
secara terpisah di dalam sebuah bak kayu yang panjang,
kemudian air mendidih kecoklatan itu ditumpahkan ke
dalamnya. Jubah-jubah itu kemudian dipukul-pukul dengan
tangan sampai bersih. Bhikkhu itu kemudian harus
mengeringkannya di bawah sinar matahari, membolak-baliknya
secara teratur agar pewarna alaminya tidak luntur. Mencuci
satu jubah saja sudah lama dan repot. Mencuci sebegitu
banyak jubah membutuhkan waktu berjam-jam. Si bhikkhu muda
Brisbane ini sudah lelah semalaman tidak tidur. Saya kasihan
juga kepadanya.

Saya datang ke pelataran tempat mencuci itu untuk
membantunya. Sesampai di sana, dia sedang memaki-maki, lebih
condong ke tradisi Brisbane daripada tradisi Buddhis. Dia
mengeluhkan betapa tidak adil dan kejamnya. "Tidak bisakah
kepala vihara menunggu sampai besok? Tidakkah dia menyadari
bahwa saya tidak tidur semalaman? Saya tidak menjadi bhikkhu
untuk mencuci!" Kata-katanya tidak persis seperti itu, tapi
itulah yang masih cukup sopan untuk ditulis di sini.

Saat itu terjadi, saya telah menjadi bhikkhu selama beberapa
tahun. Saya mengerti yang dia alami dan tahu jalan keluar
dari permasalahannya. Saya berkata kepadanya, "Berpikir jauh
lebih berat daripada mengerjakannya."

Dia menjadi terdiam dan memandang saya. Setelah beberapa
lama berdiam diri, tanpa berkata apa-apa dia kembali bekerja
dan saya kembali ke tempat untuk tidur. Belakangan di hari
itu, dia datang menemui saya untuk mengucapkan terima kasih
atas bantuan saya mencuci jubah. Memang benar, dia
menyadari, berpikir adalah bagian yang terberat. Ketika dia
berhenti mengeluh dan hanya mengerjakan cuciannya, sama
sekali tidak ada masalah.

Bagian terberat dari segala hal dalam hidup adalah
memikirkannya.

Pygmalion


Hukum Pygmalion
Hukum Berpikir Positif ..

Konon Pygmalion adalah seorang pemuda yang berbakat seni memahat. Ia sungguh piawai dalam memahat patung. Karya ukiran tangannya sungguh bagus. Tetapi bukan kecakapannya itu menjadikan ia dikenal dan disenangi teman dan tetangganya.

Pygmalion dikenal sebagai orang yang suka berpikiran positif. Ia memandang segala sesuatu dari sudut yang baik.

Apabila lapangan di tengah kota becek, orang-orang mengomel. Tetapi Pygmalion berkata, "Untunglah, lapangan yang lain tidak sebecek ini."
Ketika ada seorang pembeli patung ngotot menawar-nawar harga, kawan-kawan Pygmalion berbisik, "Kikir betul orang itu." Tetapi Pygmalion berkata, "Mungkin orang itu perlu mengeluarkan uang untuk urusan lain yang lebih perlu"..
Ketika anak-anak mencuri apel dikebunnya, Pygmalion tidak mengumpat. Ia malah merasa iba, "Kasihan, anak-anak itu kurang mendapat pendidikan dan makanan yang cukup di rumahnya."
Itulah pola pandang Pygmalion. Ia tidak melihat suatu keadaan dari segi buruk, melainkan justru dari segi baik. Ia tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain; sebaliknya, ia mencoba membayangkan hal-hal baik dibalik perbuatan buruk orang lain.

Pada suatu hari Pygmalion mengukir sebuah patung wanita dari kayu yang sangat halus. Patung itu berukuran manusia sungguhan. Ketika sudah rampung, patung itu tampak seperti manusia betul. Wajah patung itu tersenyum manis menawan, tubuhnya elok menarik.

Kawan-kawan Pygmalion berkata, "Ah, sebagus-bagusnya patung, itu cuma patung, bukan isterimu."

Tetapi Pygmalion memperlakukan patung itu sebagai manusia betul. Berkali-kali patung itu ditatapnya dan dielusnya.

Para dewa yang ada di Gunung Olympus memperhatikan dan menghargai sikap Pygmalion, lalu mereka
memutuskan untuk memberi anugerah kepada Pygmalion, yaitu mengubah patung itu menjadi manusia betul.. Begitulah, Pygmalion hidup berbahagia dengan isterinya itu yang konon adalah wanita tercantik di seluruh negeri Yunani.

Nama Pygmalion dikenang hingga kini untuk mengambarkan dampak pola berpikir yang positif. Kalau kita berpikir positif tentang suatu keadaan atau seseorang, seringkali hasilnya betul-betul menjadi positif.

Misalnya,

Jika kita bersikap ramah terhadap seseorang, maka orang itupun akan menjadi ramah terhadap kita.
Jika kita memperlakukan anak kita sebagai anak yang cerdas, akhirnya dia betul-betul menjadi cerdas.
Jika kita yakin bahwa upaya kita akan berhasil, besar sekali kemungkinan upaya dapat merupakan separuh keberhasilan.
Dampak pola berpikir positif itu disebut dampak Pygmalion.

Pikiran kita memang seringkali mempunyai dampak fulfilling prophecy atau ramalan tergenapi, baik positif maupun negatif.

Kalau kita menganggap tetangga kita judes sehingga kita tidak mau bergaul dengan dia, maka akhirnya dia betul-betul menjadi judes.
Kalau kita mencurigai dan menganggap anak kita tidak jujur, akhirnya ia betul-betul menjadi tidak jujur.
Kalau kita sudah putus asa dan merasa tidak sanggup pada awal suatu usaha, besar sekali kemungkinannya kita betul-betul akan gagal.
Pola pikir Pygmalion adalah berpikir, menduga dan berharap hanya yang baik tentang suatu keadaan atau seseorang. Bayangkan, bagaimana besar dampaknya bila kita berpola pikir positif seperti itu. Kita tidak akan berprasangka buruk tentang orang lain.

Kita tidak menggunjingkan desas-desus yang jelek tentang orang lain. Kita tidak menduga-duga yang jahat tentang orang lain.

Kalau kita berpikir buruk tentang orang lain, selalu ada saja bahan untuk menduga hal-hal yang buruk. Jika ada seorang kawan memberi hadiah kepada kita, jelas itu adalah perbuatan baik. Tetapi jika kita berpikir buruk,kita akan menjadi curiga, "Barangkali ia sedang mencoba membujuk," atau kita mengomel, "Ah, hadiahnya cuma barang murah." Yang rugi dari pola pikir seperti itu adalah diri kita sendiri. Kita menjadi mudah curiga. Kita menjadi tidak
bahagia.

Sebaliknya, kalau kita berpikir positif, kita akan menikmati hadiah itu dengan rasa gembira dan syukur, "Ia begitu murah hati. Walaupun ia sibuk, ia ingat untuk memberi kepada kita."

Warna hidup memang tergantung dari warna kaca mata yang kita pakai..

Kalau kita memakai kaca mata kelabu, segala sesuatu akan tampak kelabu. Hidup menjadi kelabu dan suram. Tetapi kalau kita memakai kaca mata yang terang, segala sesuatu akan tampak cerah. Kaca mata yang berprasangka atau benci akan menjadikan hidup kita penuh rasa curiga dan dendam. Tetapi kaca mata yang damai akan menjadikan hidup kita damai.

Hidup akan menjadi baik kalau kita memandangnya dari segi yang baik. Berpikir baik tentang diri sendiri. Berpikir baik tentang orang lain. Berpikir baik tentang keadaan. Berpikir baik tentang Tuhan.

Dampak berpikir baik seperti itu akan kita rasakan.. Keluarga menjadi hangat. Kawan menjadi bisa dipercaya. Tetangga menjadi
akrab. Pekerjaan menjadi menyenangkan. Dunia menjadi ramah. Hidup menjadi indah. Seperti Pygmalion, begitulah.,_ __